Presiden MADN Gaungkan Kembali Pentingnya Kearifan Lokal dalam Seminar Internasional Hari Masyarakat Adat Sedunia

banner 468x60

Palangka Raya, BengkayangNews.com – Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN) Dr. Drs. Marthin Billa, MM, sekaligus Anggota DPD RI Dapil Kaltara 3 periode, kembali menegaskan urgensi kearifan budaya lokal sebagai fondasi utama persatuan dan kekerabatan masyarakat Dayak. Penegasan ini disampaikan dalam seminar bertajuk “Budaya Kearifan Lokal Perekat Persatuan (Kekerabatan)” yang menjadi bagian dari perayaan International Day of The World’s Indigenous People 2025. Acara ini diselenggarakan oleh Dewan Adat Dayak Provinsi Kalimantan Tengah di Pumpung Hai Borneo, Palangka Raya, pada 21-22 Agustus 2025.

Dalam seminar yang dihadiri oleh berbagai tokoh penting dari Kalimantan dan luar negeri, Presiden MADN menyampaikan paparannya dengan lugas dan tegas, merangkum tujuh poin krusial yang perlu menjadi perhatian bersama:

banner 336x280

BACA JUGA : Pidato Wapres RI dengan Pidato Pangalangok Jilah di Acara Kunjungan Kerja Kenegaraan Ibarat Pantun Saling Berbalas

  1. Kearifan Budaya Lokal: Dr. Billa menekankan bahwa kearifan budaya lokal adalah warisan nilai dan tradisi yang menjadi pedoman hidup masyarakat adat Dayak, bukan sekadar cerita masa lalu, melainkan kompas penunjuk arah untuk masa depan.
  2. Adat Sebagai Fondasi: Beliau menjelaskan bahwa adat istiadat, hukum adat, simbol, dan tradisi merupakan pilar kokoh yang menopang kekerabatan masyarakat Dayak, membentuk identitas dan karakter yang unik.
  3. Penguatan Identitas: Kearifan lokal, menurut Presiden MADN, memiliki kekuatan untuk memperkuat identitas Dayak, menciptakan keharmonisan sosial, dan mendorong pelestarian lingkungan secara berkelanjutan.
  4. Tumbang Anoi: Simbol Persatuan: Dr. Billa kembali mengusulkan penetapan peringatan Tumbang Anoi, yang terjadi pada 24 Juli 1894, sebagai hari bersejarah kebangkitan dan perdamaian Bangsa Dayak. Momentum ini diharapkan dapat menjadi pengingat akan pentingnya persatuan dan kesatuan dalam menghadapi berbagai tantangan.
  5. Salam Pemersatu: Dengan penuh semangat, Presiden MADN mendukung upaya pematenan dan pengakuan salam “Adil Ka’ Talino, Bacuramin Ka’ Saruga, Basengat Ka’ Jubata” sebagai simbol pemersatu Bangsa Dayak, baik di tingkat nasional maupun internasional. Salam ini diharapkan dapat menjadi identitas yang membanggakan dan menyatukan seluruh masyarakat Dayak di manapun mereka berada.
  6. Pelestarian di Era Modern: Dr. Billa mengingatkan bahwa pelestarian kearifan lokal bukan hanya tugas generasi tua, melainkan juga tanggung jawab generasi muda dalam menghadapi arus modernisasi dan menjaga keutuhan identitas Dayak.
  7. Tanggung Jawab Generasi: Pelestarian ini, menurut Presiden MADN, adalah tugas mulia yang harus diemban oleh generasi kini dan mendatang, sebagai kekuatan hidup untuk menghadapi masa depan yang penuh tantangan.

Seminar International Day of The World’s Indigenous People 2025 yang digelar di Pumpung Hai Borneo, Palangka Raya, menjadi wadah penting bagi masyarakat Dayak untuk merajut persatuan, melestarikan budaya, dan merumuskan strategi dalam menghadapi tantangan global. Semangat dan pesan yang disampaikan oleh Presiden MADN diharapkan dapat menginspirasi seluruh masyarakat Dayak untuk terus berkarya dan berkontribusi bagi kemajuan bangsa dan negara.

BACA JUGA : Wapres MADN: Renungkan Indonesia Merdeka 80 Tahun! Dayak: Bertahan atau Perlu Pamitan?
Presiden MADN Ajak Masyarakat Dayak Raih Kemajuan Melalui 5 Pilar Utama: SDM Ungghul, Kedaulatan Adat, Hingga Advokasi Global

Dalam pidato pembukaan Seminar International Day of The World’s Indigenous People 2025 di Palangka Raya, Presiden Majelis Adat Dayak Nasional (MADN), Dr. Drs. Marthin Billa, MM, menggarisbawahi pentingnya persatuan dan kekerabatan bangsa Dayak yang berlandaskan budaya dan kearifan lokal. Beliau juga menyampaikan lima penekanan penting yang menjadi kunci untuk meraih kemajuan dan kesejahteraan masyarakat Dayak di era modern.

Mengawali pidatonya, Presiden MADN menegaskan bahwa kearifan lokal Dayak bukan hanya menjadi perekat persatuan di Indonesia, tetapi juga memiliki relevansi global dalam membangun harmoni dan keberlanjutan. Beliau kemudian menjabarkan lima pilar utama yang perlu diperhatikan dan diimplementasikan secara bersama-sama:

  1. Peningkatan SDM Menuju Manusia Dayak yang Berkualitas: Presiden MADN menekankan pentingnya investasi dalam sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan berkualitas, pelatihan keterampilan, dan pengembangan potensi diri. Dengan SDM yang unggul, masyarakat Dayak akan mampu bersaing dan berkontribusi secara optimal dalam berbagai bidang pembangunan.
  2. Pengakuan Hak, Partisipasi Politik, dan Kepemimpinan Lokal: Pengakuan hak-hak masyarakat adat Dayak, termasuk hak atas tanah adat, sumber daya alam, dan kebebasan berbudaya, merupakan fondasi penting untuk mewujudkan keadilan dan kesejahteraan. Selain itu, partisipasi aktif dalam politik dan pemerintahan, serta kepemimpinan lokal yang kuat dan berintegritas, akan memastikan aspirasi masyarakat Dayak dapat terwakili dengan baik.
  3. Pengelolaan Hutan Adat dan Kedaulatan Lingkungan: Presiden MADN menyoroti pentingnya pengelolaan hutan adat secara berkelanjutan dan bertanggung jawab oleh masyarakat adat. Hal ini bukan hanya akan menjaga kelestarian lingkungan, tetapi juga meningkatkan kesejahteraan ekonomi masyarakat Dayak.
  4. Dekolonisasi Pengetahuan dan Advokasi Global: Dr. Billa mengajak masyarakat Dayak untuk melakukan dekolonisasi pengetahuan, yaitu membebaskan diri dari cara pandang yang dipengaruhi oleh kolonialisme. Hal ini dapat dilakukan dengan menggali, mengembangkan, dan menyebarluaskan pengetahuan adat Dayak, serta melakukan advokasi global untuk memperjuangkan hak-hak masyarakat adat di forum internasional.
  5. Pelestarian Pengetahuan Adat, Istiadat, dan Kebudayaan Dayak Menghadapi Era Digital: Di era digital yang serba cepat, pelestarian pengetahuan adat, istiadat, dan kebudayaan Dayak menjadi semakin mendesak. Pemanfaatan teknologi digital dapat menjadi sarana yang efektif untuk mendokumentasikan, mempromosikan, dan mewariskan warisan budaya Dayak kepada generasi penerus.

Seminar International Day of The World’s Indigenous People 2025 ini dihadiri oleh Presiden MADN, Presiden Sabah dan presiden Sarawak Malaysia, para pemimpin di Kalimantan, pengurus MADN, ketua dan Pengurus DAD PROVINSI, Kabupaten, kecamatan, tokoh adat, lintas agama, ahli akademik, perwakilan NGO, dan generasi muda dari seluruh Sabah, Sarawak, dan Kalimantan. Kehadiran mereka menjadi bukti nyata komitmen untuk bersama-sama “Menggagas Masa Depan Masyarakat Adat Dayak” yang lebih baik dan sejahtera.

banner 336x280