1793323738682

Jakarta, BengkayangNews.com – Persoalan pemerataan akses listrik di Indonesia masih menjadi pekerjaan besar pemerintah. Hingga Oktober 2026, hampir 11 ribu desa dan dusun di berbagai wilayah Indonesia dilaporkan belum menikmati akses listrik.

Kondisi tersebut kembali menjadi perhatian setelah Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia, melaporkan perkembangan program listrik desa kepada Presiden Prabowo Subianto di Istana Kepresidenan, Jakarta, Kamis (29/10/2026).

Dalam keterangannya kepada awak media, Bahlil menyampaikan bahwa pemerintah terus mempercepat pelaksanaan program elektrifikasi untuk menjangkau masyarakat yang selama ini belum mendapatkan layanan listrik. Salah satu langkah yang disiapkan adalah peresmian 1.413 titik program listrik desa tahun anggaran 2025. Peresmian tersebut dijadwalkan berlangsung dalam waktu dekat oleh Presiden Prabowo Subianto.

BACA JUGA : Presiden Prabowo Panggil Menko Bahlil, Bahas Listrik Desa hingga Pabrik Baterai CATL–Antam

Target Seluruh Desa Berlistrik pada 2029–2030

Pemerintah sebelumnya telah menetapkan target agar seluruh desa dan dusun yang belum mendapatkan akses listrik dapat terlayani secara bertahap hingga 2029–2030. Untuk mencapai target tersebut, pemerintah mendorong percepatan pembangunan jaringan listrik melalui Program Listrik Desa (Lisdes), termasuk penguatan infrastruktur distribusi di wilayah terpencil.

Selain pembangunan jaringan, pemerintah juga menjalankan program Bantuan Pasang Baru Listrik (BPBL) bagi rumah tangga kurang mampu yang belum memiliki sambungan listrik sendiri. Melalui dua program tersebut, pemerintah berharap masyarakat di daerah terpencil dapat menikmati akses energi yang lebih merata.

Wilayah Terpencil Masih Menghadapi Tantangan

Pemerataan listrik di Indonesia bukan perkara mudah. Kondisi geografis berupa kepulauan, pegunungan, hutan, serta keterbatasan infrastruktur menjadi sejumlah tantangan dalam memperluas jaringan kelistrikan. Wilayah Maluku, Papua, dan Nusa Tenggara termasuk kawasan yang membutuhkan perhatian khusus.

Direktorat Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian ESDM sebelumnya mengidentifikasi 10.068 lokasi yang belum terlistriki, dengan sekitar 5.555 lokasi berada di tiga kawasan tersebut. Kondisi ini menunjukkan bahwa pembangunan infrastruktur energi masih perlu dipercepat agar masyarakat di pelosok memperoleh kesempatan yang sama.

BACA JUGA : Demo #IndonesiaSadar di Bundaran HI, Mahasiswa Sampaikan Lima Tuntutan kepada Pemerintah

Listrik Bukan Sekadar Penerangan

Ketersediaan listrik memiliki peran penting dalam meningkatkan kualitas kehidupan masyarakat. Selain sebagai sumber penerangan, listrik juga menunjang pendidikan, pelayanan kesehatan, komunikasi, serta aktivitas ekonomi masyarakat. Anak-anak di wilayah yang belum memiliki listrik masih menghadapi keterbatasan dalam mengakses fasilitas belajar pada malam hari.

Sementara itu, pelaku usaha kecil di pedesaan juga membutuhkan energi untuk mengembangkan kegiatan produktif.Karena itu, percepatan elektrifikasi tidak hanya berkaitan dengan pembangunan infrastruktur, tetapi juga menyangkut pemerataan kesejahteraan dan keadilan sosial.

Pemerintah diharapkan dapat memastikan program listrik desa berjalan tepat sasaran sehingga target seluruh desa dan dusun mendapatkan akses listrik pada 2029–2030 benar-benar dapat diwujudkan. (Red/Rdi)

Sumber: Sekretariat Presiden, Kementerian ESDN