BengkayangNews.com – Semangat Hari Ulang Tahun (HUT) Polri ke-80 yang semestinya menjadi momentum emas untuk merangkul insan pers dan mengapresiasi kreativitas publik melalui karya tulis, justru tercoreng oleh sikap tertutup dan terkesan abai dari pucuk pimpinan kepolisian di wilayah perbatasan. Latip Ibrahim, seorang penulis dan pegiat literasi, melayangkan ungkapan kekecewaan mendalam secara terbuka kepada Kapolres Bengkayang, AKBP Syahirul Awab, S.Sos., S.I.K. Pasalnya, sang perwira menengah tersebut sama sekali tidak menunjukkan respons, tanggapan, maupun apresiasi ketika dimintai pandangan dan pendapatnya terkait artikel jurnalistik bertajuk “𝗧𝗿𝗮𝗻𝘀𝗳𝗼𝗿𝗺𝗮𝘀𝗶 𝗣𝗼𝗹𝗶𝘀𝗶 𝗣𝗲𝗿𝗯𝗮𝘁𝗮𝘀𝗮𝗻, 𝗗𝗲𝘁𝗲𝗸𝘁𝗶𝗳 𝗗𝗶𝗴𝗶𝘁𝗮𝗹 𝘆𝗮𝗻𝗴 𝗠𝗲𝗻𝗷𝘂𝗻𝗷𝘂𝗻𝗴 𝗛𝘂𝗸𝘂𝗺 𝗔𝗱𝗮𝘁”. Tulisan karya Latip Ibrahim tersebut sejatinya mendedikasikan ruang apresiasi yang besar terhadap kinerja jajaran Polres Bengkayang. Artikel tersebut menyoroti bagaimana kompleksitas tugas kepolisian di garis depan perbatasan Indonesia-Malaysia mulai dari tantangan geografis hutan Kalimantan, modernisasi pola patroli berbasis digital, hingga kearifan lokal dalam menyelesaikan konflik warga melalui mediasi hukum adat yang didukung oleh tokoh adat Dayak Banyadu Nasional, Fabianus Oel R. Norekng, M.Pd.Namun, niat baik untuk membangun sinergi positif melalui karya tulis dalam rangka menyambut HUT Bhayangkara ke-80 ini justru menemui jalan buntu di meja sang Kapolres. Sikap diam tanpa respons dari AKBP Syahirul Awab, S.Sos., S.I.K., dinilai mencederai semangat keterbukaan informasi publik serta merusak esensi kemitraan strategis antara Polri dan masyarakat, khususnya para kreator karya jurnalistik di daerah. “Sangat disayangkan ketika sebuah karya tulis yang mengangkat dedikasi dan kerja keras anggota Polri di pelosok perbatasan justru mendapat tembok tebal berupa sikap acuh tak acuh dari pimpinannya sendiri. Padahal, sinergi literasi dan institusi penegak hukum adalah kunci membangun kepercayaan publik,” ujar Latip Ibrahim pemerhati media lokal di Bengkayang. Sikap bungkam yang ditunjukkan oleh AKBP Syahirul Awab, S.Sos., S.I.K., memunculkan tanda tanya besar di kalangan pemerhati hukum dan media. Di satu sisi, institusi kepolisian terus menggaungkan slogan modernisasi, transparansi, dan transformasi digital yang humanis. Namun di sisi lain, respons pimpinan di tingkat resor justru menunjukkan jarak yang kian melebar dengan elemen masyarakat yang ingin berpartisipasi memajukan citra positif Polri melalui karya intelektual. Kekecewaan ini menjadi catatan evaluasi kritis bahwa institusi kepolisian di daerah, khususnya di wilayah perbatasan strategis seperti Kabupaten Bengkayang, tidak hanya dituntut cakap mengamankan teritorial fisik dan siber, tetapi juga wajib memiliki kepekaan komunikasi (𝑟𝑒𝑠𝑝𝑜𝑛𝑠𝑖𝑣𝑒𝑛𝑒𝑠𝑠) terhadap apresiasi dan partisipasi publik. Hingga berita ini diturunkan, pihak Kapolres Bengkayang, AKBP Syahirul Awab, S.Sos., S.I.K., masih belum memberikan tanggapan resmi terkait kritik terbuka atas tidak diresponnya permintaan pendapat terhadap karya jurnalistik HUT Polri ke-80 tersebut. (Red) Navigasi pos Temui Jokowi, Panglima Jilah Bawa Undangan Khusus Acara Adat Dayak 22 Agustus