Sejarah hari ini, 12 tahun yang lalu, 3 Juni 2014, Ketua Umum Partai Gerindra, Prabowo Subianto berjanji akan jadikan Soeharto pahlawan nasional. Keinginan itu diungkap karena Soeharto dianggap banyak berjasa bagi Indonesia. Sebelumnya, wacana pemberian gelar pahlawan untuk Soeharto bukan hal baru. Nama Soeharto sudah dimajukan banyak pihak, tapi penolakan muncul di mana-mana. Semuanya karena dosa masa lalu Soeharto yang bejibun. Tiada yang meragukan eksistensi Soeharto dan Orde Baru. Soeharto mampu membawa Indonesia keluar dari krisis ekonomi 1960-an. Ia mampu menunjukkan kapasitasnya sebagai pemimpin dengan meningkatkan pertumbuhan ekonomi Indonesia. Ia juga berperan besar dalam membangun infrastruktur di mana-mana. Hajat hidup rakyat pun mengalami peningkatan. Namun, sederet prestasi itu tak membuat segenap rakyat lupa dengan kontroversinya. Rezim pemerintahannya dikenal represif dan korup. Kondisi itu membawa rakyat Indonesia hidup terpuruk. Narasi itu diperlihatkan di era 1997-1998. Kala itu Indonesia menghadapi ancaman krisis ekonomi. Pemerintahan Soeharto dianggap gagal dalam menahan laju krisis. Kondisi itu membuat rakyat bergerak menuntut Soeharto yang telah berkuasa terlalu lama turun. Soeharto pun akhirnya lengser. Indonesia kemudian masuk kepada era reformasi. Nama Soeharto perlahan-lahan mulai meredup. Istimewanya nama Soeharto menguat lagi kala ia telah tiada sedari 27 Januari 2008. Soeharto yang baru meninggal dunia kemudian mulai dimajukan pendukungnya untuk jadi pahlawan nasional. Soeharto dianggap sudah memiliki semua persyaratan untuk jadi pahlawan nasional. Ia dipandang banyak berjasa bagi bangsa Indonesia. Ia juga dipandang sebagai orang yang peduli pada kepentingan umat Islam. “Untuk kepentingan itulah bangsa Indonesia juga telah mengalami perjalanan sejarah yang tak terlupakan. Dalam kondisi pemerintahan yang terpuruk, Letkol Soeharto merancang dan melancarkan serangan umum ke sejumlah markas dan pos pertahanan tentara Belanda di dalam kota Yogya, tanggal 1 Maret 1949. Dihantam dalam serangan dadakan, pasukan Belanda pimpinan Kolonel Van Langen, kocar-kacir. Mereka hanya bisa bertahan, meminta bala bantuan ke Magelang dan Semarang,” ungkap Menteri Agama (Menag), Muhammad Maftuh Basyuni sebagaimana dikutip lamanKemenag, 1 Maret 2009 Wacana pemberian gelar pahlawan nasional untuk Soeharto selalu bawa kehebohan. Kadang juga isu itu menguat, tapi menghilang setelahnya. Kontroversi kepemimpinan Soeharto di era Orba dianggap biang keladi banyaknya muncul penolakan. Sederet penolakan itu justru tak membuat pendukung Soeharto ciut. Ambil contoh Prabowo Subianto. Ketua Umum Partai Gerindra yang sedang ikut Pilpres 2014 itu menganggap Soeharto yang pernah jadi mertuanya sangat layak jadi pahlawan nasional pada 3 Juni 2014. Prabowo pun berjanji akan berikan gelar pahlawan nasional kepada Soeharto kala terpilih jadi Presiden Indonesia. Ia menganggap segala macam pandangan negatif kepada Soeharto hanya berbentuk fitnah. Prabowo pun ingin memutus rantai fitnah dengan menjadikannya pahlawan nasional. “Di Indonesia ini orang yang nasionalis kena fitnah. Pak Soekarno, Pak Soeharto, Pak Harto kena fitnah, jasanya bagi bangsa ini besar. Kita perjuangkan jenderal besar Soeharto sebagai pahlawan. Ini bukan karena Ibu Siti Hadiyati, bukan karena itu,” ujar Prabowo sebagaimana dikutip lamandetik.com, 3 Juni 2014. Sumber : Voi.id Navigasi pos BREAKING NEWS, Mantan Kepala BGN Dadan Hindayana Ditahan Kejagung, Tersangka Dugaan Korupsi Program MBG Menko IPK dorong kolaborasi RI-Rusia bangun infrastruktur prioritas