1791336031006

Singkawang, BengkayangNews.com – Pembatalan penerbangan menuju Jakarta di Bandara Singkawang pada Minggu (4/10/2026) menuai keluhan dari sejumlah calon penumpang.

Sebanyak 51 penumpang disebut sempat terlantar setelah penerbangan dibatalkan akibat kondisi kabut asap yang mengganggu jarak pandang. Sejumlah penumpang mengaku baru mengetahui penerbangan dibatalkan setelah berada di bandara dan menjalani proses keberangkatan.

Kondisi tersebut membuat mereka kebingungan, terutama terkait kepastian perjalanan serta biaya transportasi untuk kembali pulang atau melanjutkan perjalanan melalui Bandara Supadio Pontianak.

BACA JUGA : Presiden Jokowi Resmikan Bandara Singkawang Yang Gelontorkan Total Biaya 427 Miliar

Pantauan awak media pada Senin (5/10/2026), sekitar 22 calon penumpang terlihat berada di area Bandara Singkawang dan telah menunggu sejak sekitar pukul 10.00 WIB. Salah seorang calon penumpang, Budiana, menyampaikan kekecewaannya terhadap pelayanan dan sistem informasi terkait pembatalan penerbangan tersebut.

“Kalau memang kabut asap membuat pesawat tidak bisa terbang, kami bisa memahami karena keselamatan penerbangan adalah yang utama. Tetapi setelah penerbangan dibatalkan, siapa yang bertanggung jawab terhadap penumpang? Kami sudah membeli tiket, datang ke bandara, kemudian diarahkan ke Supadio. Biaya transportasi dan makan juga harus kami pikirkan sendiri,” ujar Budiana.

Ia meminta pemerintah daerah, pihak maskapai dan pengelola Bandara Singkawang memberikan informasi yang lebih cepat dan jelas kepada calon penumpang apabila terjadi pembatalan penerbangan.

Menurutnya, pemerintah daerah tidak hanya berperan dalam mempromosikan penggunaan Bandara Singkawang, tetapi juga diharapkan hadir ketika masyarakat menghadapi persoalan dalam perjalanan.

Budiana juga mengimbau masyarakat Singkawang, Bengkayang dan Sambas untuk mempertimbangkan kembali penggunaan penerbangan dari Bandara Singkawang sampai terdapat kepastian mengenai pelayanan dan penanganan penumpang ketika terjadi pembatalan.

“Jangan sampai masyarakat yang sudah membeli tiket dan mempercayakan perjalanan kepada layanan penerbangan justru menanggung sendiri dampak pembatalan tanpa informasi dan solusi yang jelas,” katanya.

Budiana bahkan meminta Kementerian Perhubungan mengevaluasi kondisi operasional Bandara Singkawang. Ia menyampaikan usulan agar bandara ditutup sementara apabila kondisi dan pelayanan belum mampu memberikan kepastian kepada masyarakat.

“Saya meminta Kementerian Perhubungan untuk segera menutup Bandara Singkawang apabila kondisi seperti ini terus terjadi, agar kejadian serupa tidak kembali dialami masyarakat,” tegasnya.

Keluhan tersebut diharapkan menjadi perhatian bagi maskapai, pengelola bandara, pemerintah daerah dan instansi terkait untuk meningkatkan koordinasi serta memastikan penumpang memperoleh informasi dan solusi yang jelas ketika terjadi pembatalan penerbangan. (Rin/Red)