1785116591903

Jakarta, BengkayangNews.com – Alunan musik tradisional sape khas Dayak menjadi salah satu penampilan yang menyita perhatian dalam Misa Penutupan Sidang Pleno XII Federation of Asian Bishops’ Conferences (FABC) 2026 di Gereja Katedral Jakarta, Minggu (26/7/2026).

Penampilan tersebut dibawakan oleh Mei Mei Sape (Maegan) yang dipercaya mengiringi prosesi masuk para kardinal, uskup, dan tamu undangan dari berbagai negara. Petikan nada sape yang lembut menghadirkan suasana khidmat sekaligus memperlihatkan kekayaan budaya Indonesia di hadapan para pemimpin Gereja Katolik dari Asia, serta perwakilan konferensi uskup dari Amerika, Afrika, Eropa, dan Oseania.

BACA JUGA : Petikan ‘Sape’ Mei-mei di Bipang Ambawang PIK 2 Alunan Musik Tradisional di Tengah Modernisasi

Bagi Mei Mei, kesempatan untuk ambil bagian dalam perayaan berskala internasional tersebut merupakan anugerah sekaligus bentuk pelayanan melalui talenta yang dimilikinya.

“Saya sangat bersyukur kepada Tuhan karena dipercaya bisa melayani dalam acara sebesar FABC 2026. Ini menjadi pengalaman yang sangat berharga bagi saya. Melalui musik sape, saya ingin mempersembahkan yang terbaik sebagai bentuk pelayanan dan memperkenalkan budaya Dayak kepada dunia,” ungkap Mei Mei.

Menurutnya, musik tradisional Dayak memiliki nilai budaya dan spiritual yang mampu menyatukan berbagai kalangan tanpa memandang perbedaan bahasa maupun latar belakang. Ia berharap alat musik sape semakin dikenal di tingkat nasional maupun internasional, serta terus mendapat tempat dalam berbagai kegiatan besar, baik keagamaan, kebudayaan, maupun forum internasional.

“Musik khas Dayak tidak hanya menjadi identitas budaya Kalimantan, tetapi juga menjadi bagian dari kekayaan Indonesia yang layak ditampilkan di panggung dunia. Saya bangga karena sape terus dipercaya tampil dalam berbagai ajang besar dan pertunjukan bagi tamu mancanegara,” katanya.

Penampilan Mei Mei Sape bersama alunan sape menjadi salah satu simbol bahwa keberagaman budaya Indonesia mampu berpadu harmonis dengan perayaan iman. Kehadiran musik tradisional Dayak dalam Misa Penutupan FABC 2026 sekaligus mempertegas pesan bahwa budaya lokal dapat menjadi jembatan persaudaraan, perdamaian, dan dialog antarbangsa.(Red/Rudi Rehan).