Jakarta, BengkayangNews.com – Pengusaha asal Kalimantan Barat, Prajogo Pangestu, menempati posisi teratas sebagai orang terkaya di Indonesia pada awal Mei 2026.
Merujuk Forbes The Real Time Billionaires List, Senin (4/5/2026), kekayaan pria kelahiran Bengkayang itu mencapai 20,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 363 triliun dengan asumsi kurs Rp 17.390. Meski berada di peringkat pertama, jumlah kekayaan Prajogo tercatat menurun dibandingkan awal tahun.
Sebelumnya, pada Januari 2026, total hartanya sempat mencapai 38,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 649 triliun dengan asumsi kurs Rp 16.684. Berdasarkan peringkat terbaru, Prajogo mengungguli Low Tuck Kwong, pendiri perusahaan tambang batu bara PT Bayan Resources.
BACA JUGA : Lahir di Bengkayang, Prajogo Pangestu Orang Terkaya di Indonesia Versi Forbes Saat ini
Pengusaha asal Singapura tersebut memiliki kekayaan sekitar 16,5 miliar dollar AS atau setara Rp 287 triliun.Posisi berikutnya ditempati pemilik BCA sekaligus pendiri Djarum, Robert Budi Hartono, dengan kekayaan 15,9 miliar dollar AS atau sekitar Rp 276 triliun.
Di urutan keempat ada Presiden Direktur Indofood Anthoni Salim yang mengantongi harta 11,7 miliar dollar AS atau sekitar Rp 203 triliun.Sementara itu, pendiri Mayapada Group, Dato Sri Tahir, berada di posisi berikutnya dengan kekayaan 9,5 miliar dollar AS atau setara Rp 165 triliun.
Perjalanan Bisnis Prajogo Pangestu Prajogo Pangestu lahir di Bengkayang, Kalimantan Barat, dari keluarga Hakka yang berasal dari Guangdong, China. Dilansir dari Antara, Sabtu (11/1/2025), ia menempuh pendidikan di sekolah Tionghoa di Indonesia sebelum pindah ke Jakarta pada 1965.
Prajogo memulai kariernya pada 1970 ketika ia bergabung dengan perusahaan kayu Djajanti Group milik Burhan Uray. Setelah itu, ia dipercaya menjadi General Manager PT Nusantara pada 1976. Tak lama kemudian, ia memilih keluar dari perusahaan ini untuk membangun usaha sendiri.
Prajogo lalu mendirikan Barito Pacific Timber pada akhir 1970-an. Perusahaan yang ia rintis berkembang pesat hingga menjadi perusahaan kayu terbesar di Bursa Efek Jakarta pada 1993.
Bisnis Prajogo Pangestu Semakin Berkembang
Seiring waktu, bisnisnya terus berekspansi. Pada 2007, nama perusahaan diubah menjadi Barito Pacific sebagai cerminan diversifikasi ke sektor petrokimia, energi, dan sumber daya alam lainnya.
Barito Pacific kemudian mengakuisisi 70 persen saham perusahaan petrokimia Chandra Asri pada 2007. Perusahaan tersebut terus berkembang, termasuk melalui penggabungan dengan Tri Polyta Indonesia pada 2011 yang menjadikannya salah satu produsen petrokimia terintegrasi terbesar di Indonesia.Pada tahun yang sama, Thaioil turut masuk dengan mengakuisisi 15 persen saham Chandra Asri.
Dilansir dari Forbes, langkah ekspansi berlanjut dengan membawa perusahaan tambang batu bara Petrindo Jaya Kreasi melantai di bursa saham pada 2023.Tak berhenti di situ, Prajogo juga mencatatkan anak usaha energi terbarukannya, Barito Renewables Energy, di bursa saham pada akhir tahun yang sama.
Selain itu, anak perusahaan Chandra Asri, yakni Chandra Daya Investasi, juga dipisahkan dan diperdagangkan di Bursa Efek Indonesia pada 2025.
Sumber: Kompas.com













