Semangat kebersamaan dan kemandirian ditunjukkan oleh warga keturunan Jawa yang tergabung dalam Majelis Adat Budaya Jawa (MABJ) Kabupaten Bengkayang.
Dalam upaya melestarikan identitas budaya, MABJ menginisiasi pembangunan Rumah Joglo yang berlokasi strategis di kawasan Taman Sekayok Damai Raya (SDR), tepat di depan halaman Kantor Bupati Bengkayang Satu Atap, Kelurahan Sebalo.
Yang menarik, pembangunan rumah adat ini murni mengandalkan bantuan melalui pola pembiayaan iuran gotong royong sebesar Rp10.000 per Kepala Keluarga (KK) setiap bulan.
Ketua MABJ Kabupaten Bengkayang, Sutrisno, menjelaskan bahwa pola iuran ini dipilih untuk menumbuhkan rasa memiliki (sense of belonging) di kalangan warga Jawa di Bengkayang. Menurutnya, potensi swadaya masyarakat Jawa sangat besar jika dikelola dengan baik.Berdasarkan analisis data kependudukan, Sutrisno memaparkan basis massa yang menjadi tumpuan pembangunan ini.
“Data BPS tahun 2024 menunjukkan jumlah jiwa suku Jawa mencapai 11 persen dari total penduduk Kabupaten Bengkayang yang berjumlah 297.000 jiwa. Jadi, diperkirakan ada sekitar 20.000 Kepala Keluarga (KK) warga Jawa,” ungkapnya.
Dengan estimasi tersebut, iuran Rp10.000 per bulan dipandang sebagai angka yang sangat terjangkau, namun memiliki dampak besar jika terkumpul secara kolektif untuk mendukung penyelesaian Rumah Joglo.
Pemilihan lokasi di Taman SDR bukan tanpa alasan. Kawasan ini merupakan pusat ikon budaya yang dicanangkan oleh Pemerintah Kabupaten Bengkayang sebagai tempat berkumpulnya berbagai rumah adat etnis di Bumi Sebalo.
Pembangunan Rumah Joglo di depan Kantor Bupati ini diharapkan menjadi simbol kontribusi warga Jawa dalam memperkaya khazanah budaya lokal sekaligus mendukung visi pembangunan daerah yang inklusif.
“Rumah Joglo ini nantinya akan menjadi pusat kegiatan budaya sekaligus bukti nyata kerukunan dan semangat gotong royong kami dalam membangun Bengkayang,” tambah Sutrisno.
Melalui pola iuran ini, MABJ juga berkomitmen menjaga transparansi pengelolaan dana agar seluruh warga yang berkontribusi dapat melihat langsung progres pembangunan fisik di lapangan. Langkah ini sekaligus menjadi edukasi bahwa pelestarian adat dan budaya dapat dilakukan secara mandiri melalui solidaritas komunitas.
Dengan dimulainya gerakan gotong royong ini, Rumah Joglo di Taman SDR diharapkan segera berdiri megah, bersanding dengan rumah adat etnis lainnya sebagai penjaga harmoni di Kabupaten Bengkayang.
Rep: Latip Ibrahim













